Bolazone
Portal Berita Sepak Bola Dunia dan Nasional
⚽ Install BolaZone
Pasang di HP untuk akses berita bola lebih cepat!
Beranda
LIVE
Memuat berita terbaru...
⚽ World News

FIFA Diguncang Krisis, Infantino Terancam Mosi Tidak Percaya dari UEFA, AFC dan CONCACAF

BOLAZONE — Krisis di tubuh FIFA semakin memanas. Presiden FIFA Gianni Infantino kini menghadapi tekanan terbesar selama masa kepemimpinannya setelah sejumlah konfederasi sepak bola regional mempertimbangkan langkah untuk mengajukan mosi tidak percaya terhadap dirinya.

UEFA, AFC dan CONCACAF dilaporkan sedang membahas kemungkinan membawa persoalan tersebut ke forum FIFA setelah kontroversi rencana investasi swasta dalam hak komersial Piala Dunia memicu keretakan hubungan dengan sejumlah federasi anggota.

Situasi ini menjadi semakin serius karena beberapa pejabat penting FIFA dan federasi nasional mulai menarik dukungan terhadap Infantino. Bahkan salah satu wakil presiden FIFA, Sandor Csanyi, secara terbuka menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino.



Rencana Investasi Piala Dunia Menjadi Awal Krisis

Persoalan bermula ketika FIFA memperkenalkan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) pada akhir Juli.

FIFA saat itu mengusulkan pembentukan entitas komersial baru yang akan menangani kegiatan komersial dan operasional berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Entitas tersebut diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$20 miliar, sementara investor eksternal dapat membeli hingga sekitar 20 persen sahamnya.

Rencana tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan dana baru yang kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan sepak bola di berbagai negara anggota FIFA.

Namun, proses tersebut justru menimbulkan reaksi keras.

UEFA, AFC dan CONCACAF merasa keputusan tersebut dibuat tanpa konsultasi yang memadai dengan konfederasi regional. Ketiga organisasi tersebut kemudian menilai persoalan tersebut sebagai masalah serius dalam tata kelola FIFA.

Tekanan akhirnya membuat FIFA membatalkan rencana penjualan saham tersebut.

Meski proyeknya telah dihentikan, persoalan yang muncul akibat rencana tersebut belum berakhir.

UEFA, AFC dan CONCACAF Mulai Menekan Infantino

Ketegangan antara Infantino dan tiga konfederasi semakin terbuka dalam beberapa pekan terakhir.

UEFA, AFC dan CONCACAF sebelumnya telah menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan FIFA. Ketiganya menilai kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino telah mengalami kerusakan serius akibat cara rencana investasi tersebut dibuat dan dikomunikasikan.

Kini, menurut laporan terbaru Reuters, ketiga konfederasi tersebut sedang mempertimbangkan kemungkinan voting no-confidence atau mosi tidak percaya.

Namun, belum ada pemungutan suara resmi yang dijadwalkan.

Ini penting karena situasinya masih berada pada tahap pembahasan dan tekanan politik internal FIFA. Reuters juga melaporkan bahwa sebagian pihak khawatir jika upaya tersebut gagal, posisi Infantino justru akan semakin kuat karena kegagalan tersebut dapat menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan mayoritas anggota FIFA.

Bagaimana Infantino Bisa Dicopot?

Jika benar-benar ingin membawa mosi tidak percaya ke forum resmi, prosesnya tidak sederhana.

Statuta FIFA memungkinkan setidaknya 20 persen dari 211 asosiasi anggota FIFA, atau sekitar 43 negara, mengajukan permintaan tertulis untuk menggelar Kongres Luar Biasa.

Setelah syarat tersebut terpenuhi, Dewan FIFA wajib mengadakan Kongres Luar Biasa dalam waktu maksimal tiga bulan. Setiap asosiasi anggota yang hadir memiliki satu suara.

Menariknya, UEFA sendiri memiliki 55 anggota dan AFC memiliki 47 anggota. Artinya, secara matematis masing-masing konfederasi memiliki jumlah anggota yang cukup untuk memenuhi ambang batas tersebut apabila seluruh anggotanya mendukung pengajuan.

Namun, ada satu persoalan penting.

Statuta FIFA tidak secara khusus mengatur mekanisme mosi tidak percaya terhadap presiden.

Aturan FIFA pada dasarnya menyebut bahwa keputusan biasanya dapat disahkan dengan mayoritas sederhana dari suara sah yang diberikan, kecuali terdapat ketentuan khusus lainnya.

Dengan demikian, jika proses tersebut benar-benar terjadi, persoalan interpretasi aturan dan dukungan politik antaranggota akan menjadi sangat penting.

Siapa yang Akan Menggantikan Infantino Jika Dicopot?

Apabila Infantino benar-benar kehilangan jabatannya sebelum Kongres berikutnya, statuta FIFA memiliki mekanisme sementara.

Wakil presiden dengan masa jabatan terlama akan mengambil alih fungsi presiden hingga Kongres berikutnya dapat memilih presiden baru.

Saat ini posisi tersebut berada pada Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, Presiden AFC dari Bahrain.

Namun, skenario tersebut masih jauh dari kepastian.

Untuk saat ini, belum ada pemungutan suara resmi dan belum ada keputusan bahwa Infantino akan dicopot.

Infantino Masih Memiliki Pendukung

Di tengah tekanan yang semakin besar, Infantino belum kehilangan seluruh dukungannya.

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) sebelumnya memberikan dukungan kepada Infantino. Sejumlah federasi Arab juga menyatakan dukungan terhadap presiden FIFA tersebut, termasuk Qatar dan Maroko.

Dukungan tersebut menjadi alasan mengapa proses menggulingkan Infantino tidak akan mudah.

Infantino juga telah menyatakan niat untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027.

Dengan demikian, pertarungan yang sedang terjadi bukan hanya mengenai rencana investasi yang telah dibatalkan, tetapi juga mengenai arah kepemimpinan FIFA menjelang pemilihan presiden berikutnya.

Wakil Presiden FIFA Kehilangan Kepercayaan kepada Infantino

Tekanan terhadap Infantino semakin besar setelah Sandor Csanyi, salah satu dari delapan wakil presiden FIFA, menyatakan tidak lagi mendukung kepemimpinannya.

Csanyi menyebut pemecatan Chief Operating Officer FIFA Kevin Lamour sebagai salah satu titik penting dalam keputusannya.

Lamour sebelumnya mengkritik rencana investasi FIFA dan kemudian meninggalkan organisasi tersebut. Kepergiannya semakin memperkuat kesan bahwa terjadi perpecahan internal di tubuh FIFA.

Csanyi bukan satu-satunya pejabat senior yang mengambil jarak dari Infantino.

Presiden UEFA Aleksander ฤŒeferin, Presiden AFC Sheikh Salman dan Presiden CONCACAF Victor Montagliani juga telah berada di kubu yang berseberangan dengan Infantino dalam persoalan tersebut.

Dukungan untuk Infantino Mulai Berkurang

Selain pejabat FIFA, beberapa asosiasi nasional juga mulai mengambil jarak.

Israel dan Wales termasuk federasi yang dilaporkan menarik dukungan terhadap pencalonan kembali Infantino. Selandia Baru juga sebelumnya menarik dukungannya dan meminta adanya peninjauan terhadap rencana yang telah dibatalkan tersebut.

Perubahan dukungan ini menjadi penting karena pemilihan presiden FIFA bergantung pada suara dari asosiasi anggota di seluruh dunia.

Infantino masih memiliki basis dukungan yang kuat, tetapi perkembangan terbaru menunjukkan bahwa koalisi penentangnya semakin terorganisasi.

Fans Sepak Bola Ikut Mendesak Perubahan

Krisis ini tidak hanya terjadi di tingkat federasi.

Kelompok suporter sepak bola dari berbagai negara juga mulai ikut memberikan tekanan.

Football Supporters Europe bersama sejumlah organisasi suporter dari Afrika dan Amerika Utara mendukung petisi yang menyerukan pengunduran diri Infantino dan reformasi FIFA.

Petisi tersebut menyoroti masalah transparansi, keseimbangan kekuasaan dan tata kelola FIFA setelah kontroversi rencana investasi swasta dalam hak komersial Piala Dunia.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kontroversi yang terjadi telah berkembang dari persoalan internal FIFA menjadi isu yang mendapat perhatian lebih luas dari komunitas sepak bola.

Infantino Berusaha Mempertahankan Dukungan

Di tengah situasi tersebut, Infantino tampaknya mulai melakukan pendekatan untuk mempertahankan dukungan politiknya.

Laporan terbaru menyebut Infantino berencana menghadiri turnamen U-14 di Republik Dominika yang diselenggarakan oleh Caribbean Football Union.

Langkah tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari upayanya berkomunikasi langsung dengan federasi-federasi Karibia yang memiliki suara dalam FIFA.

Namun, langkah itu juga berpotensi memperuncing konflik dengan pihak CONCACAF yang berada di kubu penentang Infantino.

Belum Ada Kepastian Infantino Akan Dicopot

Meskipun tekanan semakin besar, penting untuk membedakan antara ancaman mosi tidak percaya dan pemungutan suara resmi.

Sampai 21 Agustus 2026, belum ada keputusan resmi bahwa Kongres Luar Biasa akan digelar untuk mencopot Infantino.

Yang terjadi saat ini adalah pembahasan serius di antara sejumlah konfederasi mengenai kemungkinan menggunakan mekanisme tersebut.

Bahkan pihak yang mendorong mosi tidak percaya harus mempertimbangkan risiko politik.

Jika mosi gagal, Infantino justru bisa menggunakan hasil tersebut sebagai bukti bahwa ia masih mendapatkan dukungan mayoritas anggota FIFA.

Masa Depan FIFA Menjadi Pertaruhan

Krisis ini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Infantino sejak menjadi Presiden FIFA pada 2016.

Rencana investasi yang sudah dibatalkan sebenarnya telah selesai secara bisnis, tetapi dampak politiknya masih terasa.

UEFA, AFC dan CONCACAF kini mempertanyakan tata kelola FIFA. Beberapa federasi nasional menarik dukungan. Sejumlah pejabat senior kehilangan kepercayaan terhadap presiden FIFA, sementara kelompok suporter juga mulai menuntut perubahan.

Di sisi lain, Infantino masih mendapatkan dukungan dari CAF, sejumlah federasi Arab dan anggota FIFA lainnya.

Karena itu, pertarungan politik di FIFA kemungkinan masih akan berlangsung hingga mendekati Kongres FIFA pada 2027.

Kesimpulan

Gianni Infantino belum kehilangan jabatannya, tetapi posisinya sedang berada di bawah tekanan serius.

UEFA, AFC dan CONCACAF tengah mempertimbangkan mosi tidak percaya setelah kontroversi rencana penjualan saham dalam entitas komersial Piala Dunia. Untuk menggelar Kongres Luar Biasa, sedikitnya 43 dari 211 asosiasi anggota FIFA harus mengajukan permintaan tertulis.

Jika proses tersebut benar-benar berjalan dan Infantino kalah dalam pemungutan suara, wakil presiden dengan masa jabatan terlama akan mengambil alih sementara hingga pemilihan berikutnya.

Namun, untuk saat ini, belum ada pemungutan suara resmi dan Infantino masih memiliki dukungan kuat dari sejumlah konfederasi serta federasi nasional.

Perkembangan ini membuat masa depan kepemimpinan FIFA menjadi salah satu isu terbesar dalam sepak bola dunia menjelang pemilihan presiden FIFA 2027. 

Bagikan:
Bagaimana artikel ini menurutmu?

Komentar

Posting Komentar